Ketika mendengar istilah nasabah prioritas atau premium banking, yang langsung terbayang biasanya adalah seseorang dengan saldo miliaran rupiah di rekeningnya. Tapi sebenarnya, ukuran “kaya” dalam dunia perbankan tidak hanya diukur dari saldo tabungan, melainkan dari total Asset Under Management (AUM) — yaitu total nilai seluruh aset keuangan yang dikelola oleh bank atas nama nasabah.
AUM menjadi indikator penting yang digunakan bank untuk menentukan status dan layanan yang akan diberikan kepada nasabah. Namun, tidak banyak yang memahami secara detail bagaimana konsep ini bekerja dan mengapa nilainya begitu menentukan dalam dunia perbankan prioritas.
1. Apa itu AUM dalam konteks premium banking?
AUM (Asset Under Management) mencakup seluruh dana atau aset yang ditempatkan oleh nasabah di bank, termasuk tabungan, deposito, investasi reksa dana, obligasi, asuransi, dan produk keuangan lainnya. Jadi, meskipun saldo tabunganmu mungkin tidak terlalu besar, total nilai portofolio investasimu bisa membuatmu masuk kategori prioritas.
2. Setiap bank punya batas AUM berbeda
Tidak ada angka pasti yang berlaku universal. Beberapa bank menetapkan batas minimal AUM di kisaran ratusan juta rupiah, sementara bank lain bisa mematok hingga miliaran rupiah. Semakin tinggi AUM yang kamu miliki, semakin tinggi pula tier atau level layanan yang bisa kamu akses — mulai dari priority banking hingga private banking.
3. AUM menentukan akses ke produk eksklusif
Nasabah dengan AUM besar biasanya mendapat akses ke produk keuangan yang tidak tersedia untuk publik umum. Misalnya, deposito dengan bunga lebih tinggi, produk investasi struktural, hingga layanan manajemen kekayaan (wealth management) dengan strategi yang disesuaikan secara personal. Ini memungkinkan kamu mendapatkan imbal hasil yang lebih optimal tanpa harus repot mengelola semuanya sendiri.
4. AUM juga mencerminkan loyalitas dan hubungan dengan bank
Selain jumlah dana, AUM juga memperlihatkan seberapa dalam hubungan kamu dengan bank. Nasabah yang menggunakan lebih banyak produk dan aktif bertransaksi menunjukkan tingkat loyalitas yang tinggi. Karena itu, banyak bank memberikan status prioritas bukan hanya berdasarkan jumlah uang yang dikelola, tapi juga durasi dan intensitas hubungan dengan bank tersebut.
5. AUM bisa berubah seiring waktu
Nilai AUM tidak bersifat statis. Ia bisa naik turun tergantung pada kondisi pasar, fluktuasi investasi, atau pergerakan dana yang kamu lakukan. Karena itu, bank biasanya memantau AUM secara berkala dan melakukan penyesuaian terhadap status prioritas nasabah jika ada perubahan signifikan dalam jangka waktu tertentu.
6. AUM bukan sekadar angka, tapi strategi
Bagi banyak nasabah premium, AUM bukan hanya sekadar ukuran kekayaan, tapi juga alat untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Dengan memanfaatkan AUM secara strategis, kamu bisa mendapatkan layanan investasi, pembiayaan, dan perlindungan aset yang saling melengkapi.
7. Peran Relationship Manager dalam pengelolaan AUM
Relationship Manager (RM) berperan penting dalam membantu nasabah memahami dan mengelola AUM mereka. RM akan memberikan panduan tentang cara mendistribusikan aset ke berbagai instrumen agar tetap seimbang antara risiko dan potensi keuntungan. Dengan bimbingan ini, nasabah bisa menjaga stabilitas kekayaan tanpa perlu khawatir kehilangan peluang investasi.
Memahami AUM membantu kamu melihat gambaran besar dari kekayaan yang kamu miliki dan bagaimana bank memanfaatkannya untuk memberikan pelayanan terbaik. Semakin besar AUM-mu, semakin luas pula peluang untuk menikmati layanan eksklusif dengan strategi pengelolaan kekayaan yang lebih matang.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai layanan bank prioritas, debit prioritas dan syarat nasabah prioritas dalam program premium banking Bank Sinarmas, Anda bisa mengunjungi website resmi Bank Sinarmas atau datang langsung ke cabang prioritas terdekat. Di sana, Anda bisa berkonsultasi dengan Relationship Manager untuk memahami lebih dalam tentang AUM, manfaatnya, dan bagaimana strategi pengelolaan aset Anda bisa dioptimalkan secara profesional.
